Kamis, 20 Juli 2017

Saat Merasakan Kerasnya Dunia

Waktu kuliah saya tidak seberuntuk orang kebanyakan. Ceritanya menarik saat mengingat masa-masa itu. Saat merantau dan harus terus survive dengan segala keterbatasan yang ada.


Tahun 2004 adalah tahun yang tak terlupakan. Saat harus menentukan pilihan untuk melanjutkan kuliah ditengah keadaan ekonomi keluarga yang serba pas-pasan.

Ibu saya adalah seorang IRT biasa yang diwarisi gaji pensiunan suaminya yang telah lama meninggal saat saya masih SMP kelas 2. Ditengah kondisi yang pas-pasan, berkuliah adalah pilihan terlarang dan mustahil saya wujudkan.

Singkat cerita, ada guru BK semasa SMA yang selalu mensupport saya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Namanya Pak Tri. Beliau lah yang akhirnya mendaftarakan saya untuk mendapatkan Beasiswa Masuk Universitas (BMU) dan dengan kuasa Tuhan saya bisa mendapatkan beasiswa itu.

Beasiswa itulah yang mengantarkan saya menaklukan hati ibu yang sebelumnya bersikeras melarang saya untuk berkuliah. Dia luluh dan mengijinkan saya berkuliah.

Akhirnya.

Setelah melewati yang menegangkan, saya dinyatakan lolos SPMB dan masuk jurusan Fisika UPI Bandung di tahun 2004 silam. Walau harus jauh dari orang tua, tapi inilah satu langkah yang bisa membawa saya pada tujuan awal, yakni berkuliah dan mendapat gelar sarjana.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah saya menikmati kuliah dengan serba keterbatasan bahkan kekurangan. Biaya normal hidup saat itu bagi seorang mahasiswa di Bandung adalah sekitar 400 ribu s.d 600 ribu per bulan, sedangkan Ibu membantu membiayai hanya 200 ribu per bulan.

Saya pun harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan hidup di Bandung. Makan seadanya dan tidak tertalu memikirkan gizi. 

Saat itu hidup memang sangat keras. Terlebih saat beasiswa diputus setelah menyelesaikan tingkat pertama. Konsentrasi buyar. Selain harus bertahan dengan kebutuhan sehari-hari, saya juga harus berpikir untuk membiayai kuliah khususnya bayaran tiap semester.

Akhirnya jalan terakhir adalah saya harus mengorbankan IPK jeblok, karena harus bekerja paruh waktu di restoran siap saji dan mengamen di kawasan Dago.

Keras memang jika diingat saat ini. 

Namun jika saat itu saya menyerah, mungkin semuanya selesai pada saat itu juga.

Pelajaran berharga pun saya dapatkan dari proses yang telah dilalui saat itu. Saya percaya bahwa pelayar yang hebat tidak dihasilkan dari lautan tenang. Terpaan yang saya hadapi saat itu, membuat saya bisa kuat menghadapi tantangan demi tantangan di dunia sebenarnya, yaitu dunia kerja.

Walau tidak hebat, setidaknya saya bisa merasakan bahwa untuk melewati semuanya perlu pengorbanan dan selalu berusaha tegar dan kuat menyelesaikan tantangan demi tantangan hidup.

Di tahun 2008, saya lulus dari UPI dan mendapat gelar sarjana sains. Pencapaian yang membanggakan keluaga khususnya ibu yang tak menyangka anaknya bisa menjadi seorang sarjana padahal sebelumnya tak pernah menguliahkan.

Inilah hidup. Terus berusaha dan berjuang.

5 komentar:

  1. Berjuanglah untuk ibadah. Semangaaaat....

    BalasHapus
  2. Pengorbanan pasti harus selalu dilakukan. Yang penting enggak menyerah. Semangat terus ya, Mas.

    BalasHapus