TvOne Vs Metro TV : Saat Media Berpolitik. Cerdaskah?


Ada yang berbeda dengan suasana politik di Indonesia saat ini. Perbedaan ini terlihat dari hanya dua pasang capres-cawapres yang mengikuti perebutan kursi RI 1. Apa imbasnya? ya tentu karena hanya ada dua pilihan, imbasnya adalah pada dukungan politik yang semakin hari semakin memanas. Berbeda dengan pemilu sebelumnya yang diikuti lebih dari dua pasang capres-cawapres yang  terlihat monoton bahkan tidak menarik,pilpres kali ini sangat menarik untuk disimak. Namun saat ini persaingan dua pasang capres-cawapres tersebut boleh dibilang ibarat pertandingan dalam dunia sepak bola. Pemainnya terlihat santai dan damai, namun suporternya malah berantem. Inilah dinamika politik di bangsa kita. 

Suasana politik tersebut juga lahir dari peran media dalam pemberitaan kepada masyarakat. Baik media cetak, elektronik dan media maya, seperti portal, blog dll. Namun yang menarik adalah perseteruan dua stasiun televisi bergenre news, yakni TvOne dan Metro TV. Ya! ada perbedaan yang sangat mencolok dalam pemberitaannya. Ada celotehan yang lumayan lucu dari kalangan masyarakat mengenai persaingan dua stasiun TV swasta tersebut, yakni " Jika dukung Prabowo-Hatta nonton TvOne, kalo dukung Jokowi-JK nonton Metro TV". dan saya kira hal ini benar adanya.

Jika kita amati dengan teliti, pemberitaan dua media besar ini telah banyak mendorong pada opini publik yang tak jarang terlihat tidak objektif dan berimbang. Jika kita lihat TvOne, dalam acara seperti Apa Kabar Indonesia Malam, sering terlihat pembicara yang di undang hanya dari kubu Prabowo-Hatta. Dan jika kita lihat Metro TV dalam acara talk show, yang jadi pembicara berasal dari kubu Jokowi-JK. Mereka berkoar tentang kebaikan kubu masing-masing, tak jarang juga menjatuhkan rivalnya.

Salah satu yang menarik lainya adalah dari segi tagline berita. Jika kita cermati baik-baik, dalam liputan Jokowi-JK di Metro TV sering ditulis "Presiden Pilihan Kita", tapi ketika meliput Prabowo-Hatta yang ditulis adalah "Kampanye Capres-Cawapres" dan begitu sebaliknya di TvOne. Ini pemandangan yang sederhana, namun bermuatan. Masyarakat digiring pada alam bawah sadarnya tentang tagline ini. Itu sah-sah saja. Namun menurut saya kurang etis.

Apakah ini baik untuk masyarakat? Jawabannya sederhana : "kita kembalikan pada pribadi masing-masing". Namun jika kita tidak bisa menyikapi dengan baik, maka yang terjadi adalah lahirnya fanatisme berlebihan yang akan memecah belah masyarakat. Kita mengetahui bahwa sifat dari sebagian banyak masyarakat Indonesia adalah suka pada Intrik dan gosip. Dan momen saat inilah yang membuat santapan empuk bagi mereka yang suka intrik dan gosip.

Media memang tidak bisa netral. Tidak ada kamus "netral" dalam literatur jurnalistik. Yang ada adalah "independensi", kebebasan pers, kemerdekaan pers, yakni merdeka memberitakan apa saja yang penting bagi kebaikan publik, dengan berpegang pada prinisp verifikasi, konfirmasi, berimbang, akurat, dan HANYA mengabdi kepada kebenaran dan publik. Setidaknya, itulah prinsip dasar jurnalisme yang dirumuskan Bill Kovach dalam The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect. Jika sudah berbicara idealisme yang mahal, ini merupakan pemberangusan idealisme dan independensi.  Jadi Pemodal atau pemilik media adalah penikmat kebebasan pers sesungguhnya!

Semoga dari apa yang kita tangkap dari dua stasiun TV tersebut, bisa membuat kita melek terhadap dinamika politik yang semakin hari semakin kencang. Alat yang sangat bisa kita andalkan untuk menangkal pemberitaan yang tidak berimbang itu adalah AKAL SEHAT.  Jadi gunakanlah sebaik mungkin alat itu untuk menentukan pilihan dan memantapkan pilihan. 

Salam Kompak Indonesia

Doni Nurdiansyah



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.