Cerita Kuliah : Masih Belum Ada Harapan [Part 1]



Tahun 2004.

Tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan tantangan. Pasalnya di tahun ini aku akan lulus dari bangku SMA dan benar-benar harus terjun di dunia nyata. Dunia sebener-benarnya dunia. Jika diibaratkan sekolah itu adalah terdiam dalam sebuah ruangan yang serba enak, maka ketika sudah lulus, pintu ruangan itu sudah mulai di buka dan aku harus meninggalkan ruangan dengan bekal yang diperoleh di dalam ruangan. 

Jika ditanya mau ke arah mana aku akan melangkah setelah tamat SMA? Jawabannya penuh dengan misteri. Ya! pasalnya ibu paling ngotot bahwa aku harus ke Jakarta dan bekerja disana menemani sang kakak yang telah lebih terlebih dahulu sudah berada disana untuk bekerja menjadi kuli di negeri orang.

Kuliah sudah seperti harapan dan mimpi yang takkan kunjung datang. Ibu beralasan bahwa kuliah itu hanya untuk orang kaya dan rakyat miskin seperti kami hanya mimpi saja yang paling mungkin. Ibu tetap bersikeras jika kuliah adalah bukan jalan yang harus aku tempuh kelak. 

Setiap aku meminta untuk berkuliah. Yang terlontar dari ibu adalah kalimat dengan nada marah dan geram. Ibu sudah sangat mewanti-wanti bahwa beliau tidak sanggup untuk membiayai karena memang kondisi ekonomi keluarga kami sangat serba kekurangan. Sejak ayah meninggal tahun 2000 silam, keadaan ekonomi kami memang sangat kekurangan dan tak banyak uang untuk sesuatu yang mahal.

Jika mendengar ibu ngoceh tentang pendiriannya bahwa aku harus ke jakarta dan tidak melanjutkan kuliah, rasanya semua mimpi dan angan tentang melanjutkan cita-cita berpendidikan tinggi musanah seketika. Hanya keajaiban mungkin jalan terakhir yang diberikan Tuhan untuk mewujudkan semua mimpi itu.  Yang paling tidak membuat enak hati adalah ketika wali kelas memanggil dan menanyakan mau kemana setelah lulus SMA nanti? Aku hanya bungkam dan hanya bisa tersenyum kecil.

Bersambung



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.