Akhirnya Berbicara Jokowi dan Prabowo Juga

Pemilihan Umum baru saja usai. Seluruh rakyat Indonesia telah melaksanakan pesta demokrasi yang sangat diagungkan. Apa efeknya? ya! suhu politik semakin panas. Konspirasi mulai meraja lela, fitnah mulai menebar sampai orang kecil pun ikut mati-matian membela elit yang berebut kekuasaan. 



Dari awal tahun 2014 ini, rakyat disuguhkan pertunjukan para elit politik dan para elit partai yang menebar propaganda dan ajakan ke arah Indonesia lebih baik. Secara teori, semakin besar propaganda yang diberikan, semakin besar pula tingkat kebingungan rakyat terhadap politik. Ini akan semakin rentannya kepercayaan rakyat terhadap dunia politik.

Dari dulu, saya selalu ogah jika berbicara politik. Saya hanya bisa mengamati gerak-gerik elit politik dan partainya. Namun karena suhu politik semakin panas, saya mulai tergerak untuk membicarakannya. Tidak secara langsung melainkan lewat blog ini.

Sekarang saya akan menyoroti dulu tentang calon presiden. Jika kita lihat, ada dua kandidat besar dalam peta persaingan dalam bursa calon presiden. Ya! Jokowi dan Prabowo. Dua tokoh berbeda karakter, namun memiliki kualitas kepemimpinan yang baik.

Saya bahas dulu Jokowi.  Jokowi adalah sosok yang sangat saya kagumi dari segi kinerja. Disaat pemimpin enggan pergi menghampiri rakyatnya, dia mampu dan mau melakukannya. Saya masih ingat ketika dia masuk ke gorong-gorong dengan menggunakan seragam Korpri (Saya lihat di berita TV) untuk mengecek sanitasi di kota Jakarta. Tak banyak pemimpin seperti ini. Gaya blusukannya mampu menyedot perhatian publik dan media, yang membuat populeritas dan elektabilitanya meningkat seiring waktu. 

Namun akhir-akhir ini saya mulai ragu dengan sikap politiknya. Ketika ketua Umum PDI perjuangan, Megawati Soekarno Putri, memberikan mandat pada Jokowi untuk menjadi Capres dari PDIP, sikap jokowi mulai menunjukan eksistensinya yang bisa dibilang over. Dalam janjinya semansa kampanye Pilgub DKI, dia menyatakan bahwa akan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di DKI selama 5 Tahun. Namun di separuh perjalannya sebagai gubernur DKI ia mengingkari janjinya. Ini yang membuat saya ragu. 

Saya punya pandangan jika Jokowi jadi capres di tahun 2019 saja. Menurut saya hal ini akan sangat baik, mengingat kematanngannya mengurus negara masih harus diuji dan diasah lewat kepemimpinannya di DKI. Banyak elit politik yang mengatakan bahwa jangan sampai Jokowi dianggap anak TK yang berbicara masalah-masalah anak SMA. Indonesia itu bukan solo dan Jakarta. Tidak bisa membangun Indonesia, cukup dengan blusukan dan pencitraan. 

Sekarang Prabowo. Probowo adalah sosok tegas dan garang yang dimiliki negara ini. Mengawali karir sebagai prajurit TNI dan sempat menjadi orang nomer 1 di Koppasus, membuat watak kerasnya menempel dalam pembawaanya. Setelah reformasi di tahun 1998, ia mengilang dan lebih memilih tinggal di Jordania. Karena memang disana dia mendapatkan tempat.

Langkah dan ambisi Probowo untuk menjadi RI 1 pun mulai menemui hambatan ketika rivalnya Jokowi menjadi capres dari partai yang menjadi mitra partainya (Gerindra). Mengingat dari berbagai lembagaa survei, elektabilita Probowo ada dibawah elektabilitas Jokowi. Hal ini yang membuat dirinya banyak menyerang kubu jokowi dan membuat penafsiran publik semakin negatif padanya, namun ada juga yang mendukungnya.

Menurut saya, jika prabowo menjadi presiden, ia akan menjadi pemimpin yang tagas dan berani. Tak terlepas dari sikap dan sifat kerasnya. Namun publik pun sering disuguhkan oleh propaganda masa lalunya yang menurut sebagian orang kelam untuk republik ini. Namun terlepas dari masa lalu, kita harus berani bijak dalam melihat orang. Jika ia memiliki visi yang bagus kedepannya kenapa tidak?

Dari dua sosok calon pemimpin bangsa ini, saya hanya berharap, siapapun pemimpinnya nanti harus membawa Indonesia lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.